Rabu, 11 Februari 2009

Pontianak untuk Anak-Cucu ku (2)



PONTIANAK sebagaimana daerah lain di Indonesia, juga memiliki sejarah yang kini hamper jarang diceritakan pada generasi muda. Tapi aku wajib menceritakan pada anak cucuku kelak tentang kisah perjuangan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie mendirikan Kota Pontianak ini pada 23 Oktober 1771. Tentang bagaimana pasukan Sultan Pertama Pontianak ini mengalahkan ketakutan dengan ke-ikhtiarannya pada Alloh SWT karena pada waktu itu, kota dihantui oleh makhluk halus yang bernama Kuntilanak. Tentang bagaimana Sultan menentukan letak istananya berdasarkan tempat jatuhnya tiga peluru yang ditembakkan dari meriamnya. Peluru pertama sebagai komplek pemakaman keluarga Istana Kadariyah, peluru kedua sebagai tempat didirikannya masjid pertama di Pontianak yaitu Masjid Jami, dan peluru ketiga sebagai penunjuk lokasi dibangunnya istana cikal bakal pemerintahan Kota Pontianak. Hingga akhirnya kini Pontianak menjadi kota akulturasi dari berbagai macam kebudayaan, di antaranya dayak, melayu, tionghoa, dan jawa.

PONTIANAK juga memiliki tokoh-tokoh kepahlawanan yang pantas dikenang dari lingkungan keistanaan. Hanya saja, tokoh-tokoh tersebut seakan terlupakan karena setahuku, tidak ada nama-nama mereka yang disebutkan ketika aku atau adik-adikku masih bersekolah. Bahkan, Sultan Hamid II yang berjasa bagi Indonesia pun hamper tidak dikenal. Aku pernah bertanya pada adikku yang kini bersekolah di sekolah menengah atas. Ia menjawab bahwa Sultan Hamid II adalah pahlawan yang diabadikan namanya menjadi nama jalan. Tapi ia tidak tahu kenapa Sultan Hamid II dianggap sebagai pahlawan.
Yah, banyak yang tidak tahu bahwa Sultan Hamid II tidak hanya dikenal di Pontianak pada masanya. Tapi ia juga sangat berjasa bagi Negara Indonesia ini. Ia adalah tokoh yang mempersembahkan karyanya berupa Lambang Burung Garuda untuk Indonesia. (http://swaramuslim.com/galery/more.php?id=A5657_0_18_0_M)


PONTIANAK, andaikan pemerintah dan masyarakat jeli melihat potensi pariwisata dan history yang terkandung di dalamnya. Aku masih ingat ketika menyusuri sungai Kapuas, yang terlintas dibenakku sungai ini dapat dikembangkan menjadi asset wisata selayaknya di Venesia, Italia. Meskipun kota yang dilintasi Equator Line ini panas, tapi hijaunya pepohonan dan gelombang kecil air sungai menyejukkan pemandangan. Pengunjung dapat menikmati pemandangan kota dengan menggunakan sampan, atau kapal bermotor sambil merasakan desiran angin sepoi dan riak sungai.


PENGUNJUNG juga dapat menikmati Sunset hingga lampu-lampu sudut kota pada malam hari dinyalakan sambil menikmati makanan khas Pontianak di atas kapal bermotor seperti Kapal Galaherang ataupun Sarasan. Jika pengunjung hanya sekedar duduk berlama-lama di tepai sungai, banyak kafe terapung seperti Sarasan dan Pak We yang menyediakan fasilitas tersebut. Duduk sambil menikmati seafood yang menggiurkan, Yummy, aku jadi kepingin deh.

---> Pontianak untuk Anak-Cucu ku (1)<---


PONTIANAK adalah tanah kelahiranku, tanah aku dibesarkan, tanah tempat aku menimba ilmu, dan tanah dimana ku temukan sahabat yang menjadikan hidupku berwarna. Tanah itu adalah ketika aku belum melangkahkan kakiku ke Kota Kembang pada November 2008.

PONTIANAK kini adalah tanah yang kurindukan selalu.Tanah yang takkan pernah kubisa kulupakan, bukan karena aku selama lebih 23 tahun meminum air kapuasnya, tapi karena di sanalah keluarga yang kusayangi menantiku. Karena kini aku berada diParisj Van Java untuk mendapatkan kesuksesan agarku bisa bahagiakan keluargaku dengan caraku sendiri.

PONTIANAK merupakan tanah impianku. Kota ini memberikanku banyak kenangan indah untuk kuceritakan, dan banyak pula kenangan menyedihkan untuk kujadikan pelajaran. Jika aku telah menikah nanti, ku ingin menceritakan Kota Khatulistiwa ini kepada anak cucuku. Ku akan mendoktrin mereka tuk merindukan kota ini sebagaimana ku merindukannya.


PONTIANAK memiliki sungai terpanjang di Indonesia sepanjang 1143 km, begitu ceritaku padanya. Sungai itu bernama Sungai Kapuas. Saking panjangnya, sungai ini menghubungkan setiap kabupaten yang dilintasinya. Sungai ini termasuk kaya, ini terbukti adanya beberapa tambang emas yang mencemari sungai indah ini dengan kandungan mercury yang membahayakan kesehatan. Ini dikarenakan, sungai ini menjadi urat nadi masyarakat setempat. Airnya biasanya diminum, untuk mandi, mencuci, bahkan keperluan pembuangan masyarakat. Lintasannya yang panjang digunakan sebagai jalur transportasi air. Tidak heran hampir setiap saat, kapal bermotor, sampan, kapal tongkang pengangkut kayu dan bahan bakar, jet speed express, kapal nelayan bahkan kapal muatan antar propinsi melintasi sungai ini. Bahkan sungai ini menjadi rumah bagi lebih dari 300 jenis ikan, satu di antaranya adalah ikan kerapu.


PONTIANAK memiliki tugu khatulistiwa. Ini dikarenakan lintasan garis equator tepat melintasi ibukota Kalimantan Barat ini. Untuk itu, dibangunlah tugu khatulistiwa pada tahun 1928 oleh pemerintah Belanda. Awalnya tugu tersebut berupa tonggak dengan tanda panah di bagian atasnya. Di sekitar tugu inilah, titik kulminasi dapat dilihat. Artinya, satu waktu ketika matahari tepat berada di atas kepala sehingga bayangan tidak tampak sama sekali. Pada titik kulminasi inilah, masyarakat dan kota Pontianak melakukan upacara kebudayaan, dengan mempersembahkan tari-tarian multicultural Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Untuk itu, aku harap anak cucuku nantinya dapat menghadiri upacara titik kulminasi ini setiap 21-23 Maret dan 21-23 September. Sebagaimana banyaknya pengunjung domestik dan internasional yang mendatangi saat tersebut.

Jumat, 06 Februari 2009

Ular Sebesar Bus di Daerah Garis Khatulistiwa



Baru-baru ini, sebuah penemuan fosil ular super ‘Gede’ di Cerrejon, Kolombia tentu menggemparkan bagi kalangan ilmuwan maupun masyarakat awam. Namun bagi saya pribadi, ada yang lebih menggemparkan lagi, yaitu pernyataan Jason Head, ilmuwan asal Universitas Toronto di Mississausa, Canada.
Ular yang bernama Titanoboa cerrejonensis itu berpotensi hidup di daerah garis khatulistiwa, terutama di Amerika Latin dan Asia Tenggara. Daerah sekitar garis khatulistiwa memiliki suhu tinggi, sekitar 30-34 derajat celcius. Itu artinya, menjadi habitat yang baik bagi pertumbuhan binatang melata berdarah dingin seperti ular. Semakin tinggi suhu daerah tersebut, maka semakin tinggi pula pergerakan pertumbuhan dan perkembangan tubuh si ular.
So, aku tinggal di daerah bersuhu tropis yang hangat di sekitar khatulistiwa, Indonesia. Jangan-jangan ular yang diperbincangkan memiliki berat sekitar satu ton, panjang sekitar 14 meter, dan ketebalan tubuhnya mencapai pinggang orang dewasa akan mencaplokku sewaktu-waktu. Apa gak gila itu namanya…
Ups, tentu aja itu tidak gila. Pasalnya ular yang ditemukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Jason Head tersebut hanyalah sekedar fosil. Fosil itu ditemukan di Cerrejon (kawah besar bekas tambang batu bara di Kolombia). Kini fosilnya disimpan di Museum Natural of History, University of Florida.
Menurut peneliti, ular tersebut diduga masih saudara tua ular boa. Tapi, sifatnya mirip dengan anaconda, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam air. Ular yang memiliki nama berarti ular boa yang sangat kuat dari Cerrejon ini memiliki tubuh yang terlampau berat, panjang, dan besar. Ular berukuran sebesar bus itu hidup setelah masa punahnya TyrannosaurusRex. Eneliti memperkirakan sekitar 60 juta tahun lalu.
Selama ini kita mengenal anaconda hijau yang bobotnya mencapai 250 kilogram. Bagi yang tidak tahu anaconda hijau, silakan menonton filmnya Jennifer Lopez yang bertarung melawan seekor ular panjang dan besar. Bagi yang belum pernah menonton, silakan beli DVDnya yang berjudul Anaconda. Selain itu, panjang titanoboa melebihi panjang raja ular phyton. Raja ular phyton hanya memiliki panjang sekitar 10 meter.
Dengan tubuh sebesar ini, bisa dibayangkan makanan seperti apakah yang dipilih oleh si titanoboa. Head mengatakan, makanan yang melewati kerongkongan ular monster ini bisa saja berukuran besar. Bisa berupa sapi, buaya, ikan besar, atau ikan besar dengan sekali telan.
Suhu di dunia memang semakin tinggi akibat global warming atau pemanasan global yang memungkinkan adanya ular super gede hidup di dunia ini. Namun fosil hanya sekedar fosil. Head beserta ilmuwan lainnya yakin, tidak akan ada lagi ular seraksasa itu yang ada di jagad raya ini.
Titanoboa memecahkan rekor panjang ular yang ditemukan sebelumnya di Mesir yang diperkiraan hidup 40 juta tahun lalu. Sejauh ini ilmuwan telah menemukan 180 fosil tulang belakang dan tulang iga dari lusinan ular. Ilmuwan juga akan kembali untuk mencari bagian tulang tengkorak.
Fosil Titanoboa juga memberikan petunjuk lingkungan di masa itu. Fosil itu menunjukkan suhu di masa itu jauh lebih hangat dibandingkan pada masa kini. Temperatur tampaknya terus naik hingga sekarang.
“Tidak akan ada lagi ular raksasa karena kita sudah memusnahkan habitat mereka dengan pembangunan dan penebangan hutan di wilayah ekuator,”paparnya.
Di lain sisi, penemuan fosil Titanoboa ini memberikan berita bagus bagi masyarakat dunia. Carlos Jaramillo, peneliti yang ikut dalam penemuan ini menyatakan pendapat yang berbeda daripada peneliti lainnya. Ia menduga penemuan ini menandakan suhu udara di ekuator 58-60 juta tahun lalu lebih hangat daripada saat ini. Selisihnya 3-4 derajat Celsius. "Besaran suhu itu menunjukkan hutan hujan tropis Kolombia saat itu jauh lebih panas daripada hutan hujan tropis modern mana pun di dunia," ujar Carlos Jaramillo.
Jika hitung-hitungan itu tepat, bisa berarti kabar baik. Simulasi tentang pemanasan global memperhitungkan laju kenaikan suhu udara di muka Bumi ini bervariasi, 1,8-4 derajat Celsius hingga 2100 nanti. "Jika ular itu benar bisa sebagai penuntun, hutan hujan tropis saat ini bisa tetap bertahan menghadapi pemanasan global," kata Jaramillo.
Jadi, Masya Alloh dulu baru Alhamdulillah, kan…

Selasa, 30 Desember 2008

Air Susu di Jalur Gaza Terhenti

Entahlah...bagaimana penilaian tentang tulisanku ini. Aku hanya ingin mencoba membuka mata hati diriku sendiri dan teman-teman tentang apa yang terjadi di negara sahabat kita di Palestina, pasca Agresi Israel. Saya yakin, tulisan fiktif ini masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Karena itu, saya dengan sangat senang hati, terbuka menerima berbagai kritikan dan saran. Terimakasih atas perhatiannya.


Desingan suara peluru mulai meredam. Suara tangis anak-anak berganti isak yang tertahan. Hiruk pikuk kaki manusia yang terbirit-birit mencari tempat yang aman seolah terhenti oleh waktu. Suara adzan menyebut asma Allah terasa pilu. Bekas peluru tajam yang dimuntahkan pesawat perang milik Israel meratakan bangunan di depan mataku.
“Ya Allah. Ada apakah ini sebenarnya,” tanyaku dalam hati.
Pertanyaanku sesak tak tersuarakan. Seorang ibu dengan wajah merah karena darah tengah menggendong bayi mungilnya. Mungkin, bayi itu baru lahir, pikirku. Warna kulitnya masih memerah. Matanya terpejam, namun tetesan airmatanya masih membekas di pipinya yang lembut. Sesakku kian menjadi kala ku melihat sang bayi yang ternyata perempuan itu menggerakkan mulutnya. Sesekali mulutnya menganga, mungkin ia haus, pikirku.
Ibu yang masih menggendong bayi dalam pelukannya tak menghiraukan permintaan sang mungil. Wajahnya merunduk ke arah buah hatinya. Selintas, wajah mereka serupa. Berkulit putih, hidung mancung, alis bak semut beriring. Bola mata sang bayi berwarna coklat, sedangkan ibu …
Aku tak bisa melihat bola matanya. Ku coba tuk tatap matanya. Masa’ sih ibu tak menyadari bahwa bayinya memerlukan air susunya. Ku coba tuk tatap mata sang ibu, tidak sopan, tapi tak apalah. Aku penasaran. Ku arahkan pandanganku ke arah matanya. Yah, benar. Bola matanya coklat. Tapi, kenapa bola matanya tidak bergerak. Tidak bereaksi padaku yang kini ada di hadapnya.
Ku raih tangan yang masih menggendong permata kehidupannya. Terkulai. Puteri kecil itu diam tanpa suara. Bola matanya bergerak, seolah mencoba tuk mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Bibirnya masih mencari sumber penghidupan dari sang bunda.
“Ummi, ummi,” sapaku sembari menggoyangkan tubuh wanita yang mengenakan burqah warna hitam itu. Tapi wanita berbibir merah itu tidak menjawab. Tubuhnya bergoyang lemas ketika ku sentuh pundaknya. Pikiranku kalut pada semua kemungkinan yang terjadi pada wanita di depanku ini. Selintas, ku pandangi bayi mungil yang masih dipeluknya.
Sontak aku tersadar ketika ku lihat warna hitam yang begitu pekat di dada kanan sang ibu. Hitamnya lebih gelap daripada bagian pakaiannya yang lain. Ku beranikan diri tuk sentuh warna tersebut. Masya Allah, darah. Iya, warna pekat itu ternyata darah. Sadar apa yang terjadi, ku sentuh wajah wanita yang bersandar pada dinding masjid di Jalur Gaza ini.
“Innalillahi wa inalillahi raji’un. Air susu untuk bayi mungil ini telah terhenti,” ucapku setelah menyadari bahwa perempuan tersebut tewas di antara desingan serbuan tentara Israel ke Jalur Gaza ini.
Sangat tidak berperikemanusiaan tentara Shimon Perez ini. Ibu yang tengah menyusui bayinya pun menjadi korban keganasan timah panas yang dimuntahkan. Apa tidak cukup, anak-anak terpisahkan dari ayah yang mengorbankan diri mereka. Apa tidak cukup mereka membuat kehancuran, meratakan bangunan. Bahkan Masjidil Aqsa pun mereka samarkan dengan keberadaan Dome of Rock, untuk mengelabui umat Muslim dunia. Kini, mereka pun menghentikan tetes demi tetes air susu sang bunda, sumber penghidupan dan rahmat dari Sang Kuasa untuk bayi-bayinya.
Dan akankah bangsa arab membiarkan semakin banyak bayi yang harus kehilangan rahmat tersebut. Akankah umat muslim dunia dapat membela hak-hak mereka yang terhenti beserta nyawa sang bunda yang menemui ajal. Masihkah Mesir berkhianat menutup jalur bantuan untuk mereka. Masihkah Amerika Serikat mengatakan agresi Israel pada rakyat palestina yang tidak berdosa dianggap sebagai penyelamat dunia.

Minggu, 28 Desember 2008

So Damn Israel. Negara Tanpa Hati.

Pertama kali ku dengar berita tentang peristiwa penyerangan Israel terhadap Palestina, aku sempat terperangah. “Kurang ajar banget tuh Israel,” umpatku dalam hati. Serangan tersebut dilakukan Negara sahabat Amerika Serikat ini melalui jalur udara. Bagaimana tidak kurang ajar jika penyerangan yang dilakukan Israel tersebut menewaskan sekitar 275 warga, demikian yang diberitakan www.okezone.com edisi Minggu, 28 Desember 2008. Sebagian besar korban kebiadaban tersebut adalah warga sipil.
Israel yang dilansir oleh okezone mengatakan, penyerangan tersebut untuk memberikan pelajaran kepada tentara Hamas, tentara yang selalu membela kebebasan Bangsa Palestina dari kebiadaban zionis Israel. Menurut Israel seperti yang tertulis di website media Indonesia tersebut, Israel bermaksud memberikan pelajaran kepada Hamas, karena selama ini Israel menganggap Hamas memiliki lokasi yang merupakan kantong bakal peluncuran roket. Bagi Israel, roket tersebut merupakan senjata berbahaya yang perlu dibasmi dan mengancam kehidupan manusia di bumi.
Tidak cukup. Perdana Menteri Israel Ehud Olmert seperti yang dilansir Reuters, Minggu (28/12/2008), akan menggerakkan pasukan angkatan daratnya untuk menjangkau lokasi tersebut. “Kami melakukan pembalasan yang dilakukan oleh militant Gaza. Mereka membombardir kami dengan roket. Ini merupakan pembalasan. Ada saatnya kami diam, dan ada waktunya kami membalas. Sekarang waktunya bertempur,” katanya.
Selama serangan Minggu pagi (28/12), jet-jet tempur Israel sudah menewaskan tiga warga sipil. Misil-misil ditembakkan dari udara ke arah markas kantor polisi Gaza. Sementara itu kementerian departemen pertahanan Israel merilis video serangan udara yang diklaim tepat sasaran. Israel mengnincar fasilitas peluncuran roket-roket Hamas yang berada di bawah tanah. Untuk menjangkau fasilitas tersebut, Israel menggunakan misil yang tak hanya membunuh ratusan warga sipil, namun juga meratakan bangunan-bangunan di sekitarnya.
Akibat serangan ini, Hamas bersumpah akan melakukan penyerangan balik terhadap Israel. Wajar, saya rasa, hal tersebut dilakukan para pejuang Palestina. Bahkan, mereka juga menetapkan perang intifadah terhadap Negara yang dipimpin oleh Presiden Shimon Perez itu. Perang sampai titik darah penghabisan untuk membela rakyat Palestina yang semakin lama kian menjadi korban kekerasan perang.
Saya sebagai seorang manusia setuju dengan Wakil Presiden Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla, mengecam tindakan kebiadaban Israel. Kutukan paling buruk memang pantas diberikan kepada Israel. Jikalaupun memang Hamas memiliki perlengakapan persenjataan secanggih itu, kenapa harus Israel yang melakukan penghukuman terhadap Negara yang pernah dipimpin oleh Yasser Arafat tersebut. Jika persenjataan milik Hamas tersebut membahayakan dan mengancam kehidupan manusia, kenapa warga sipil harus menjadi korban penghukuman yang mungkin ditujukan kepada pemilik senjata itu.
Yang lebih mengherankan lagi, kenapa harus Israel dan tentaranya yang melakukan penghukuman itu. Kenapa Amerika Serikat melakukan veto untuk merintangi usaha PBB menghentikan penyerangan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.
Anehnya lagi, Negara-negara di Liga Arab diam ketika saudaranya menjadi korban kebiadaban Israel. Wajar jika masyarakat Arab melakukan aksi demo mengecam kebiadaban Israel sekaligus memperingatkan Liga Arab untuk tidak sekedar diam atau tutup telinga terhadap penderitaan warga tidak bersalah yang menjadi korban. Saat ini, LIga Arab diharapkan untuk tidak diam. Karena kediaman saat ini menyatakan bahwa Liga Arab yang terdiri dari banyak Negara di tanah Arab lemah menghadapi satu Negara yaitu Israel.
Sebagai seorang wanita, saya lebih memikirkan nasib anak-anak yang menjadi korban perang. Entah berapa banyak anak-anak yang harus hidup dengan tubuh yang tidak sempurna. Entah berapa banyak anak-anak yang hidup di antara desingan peluru tajam yang berbahaya. Entah berapa anak-anak yang rindu pada ayahnya yang telah tewas akibat perang, bahkan kebanyakan dari mereka adalah pejuang bangsa. Entah berapa banyak bayi yang haus air susu ibunya, karena sumber kehidupannya itu terhenti, sang ibu tewas tertembak peluru tajam.
Israel memang tak berprikemanusiaan. Tak punya hati. Seolah petingginya tidak pernah memiliki anak, istri, dan bunda. Sehingga mereka begitu tega menjadikan warga Palestina sebagai korban, dengan dalih untuk menghancurkan senjata canggih yang dimiliki tentara Hamas. Tepatlah rasanya jika kupilih kata Kurang Ajar untuk Israel.

Senin, 22 Desember 2008

Pertahanan Seorang Ibu



Seorang ibu sedang mengais sebuah tempat sampah. Pakaian putihnya yang lusuh mungkin telah beberapa hari tidak dicuci. Kalaupun dicuci, mungkin saja tidak pernah menggunakan sabun detergent yang harum ataupun yang memiliki system anti bakteri. Lihat saja, warna putih itu memudar menjadi warna kecoklatan.
Keringatnya menetes di dahi hingga ke pipinya. Di punggungnya, tergendong sebuah keranjang berisikan onggokan sampah plastic. Meskipun, keranjang rotan yang telah bertampalkan selotip hitam itu hampir terisi penuh, ia tetap berusaha untuk memasukkan botol-botol plastic ke dalamnya.
Di usap kening dan pipinya. Terlihat ia sedang menelan air liurnya sendiri sehingga kulit lehernya seolah bergeser. Ditatapnya langit yang mulai menampakkan senja merah di ufuk barat. Ternyata hari mulai petang.
Ia pun mengayunkan langkah kakinya. Setibanya di sebuah rumah yang halamannya berisikan banyak tumpukan sampah, ia pun meletakkan pendapatannya ke timbangan.
“Yup. Pendapatan kamu lebih banyak hari ini, Bu Mina. Lumayan, dapat tiga puluh ribu rupiah. Ini duitnya ya,” kata si bos barang bekas tersebut, sembari memberikan tiga lembar uang sepuluh ribuan ke Ibu penggaruk sampah itu.
Melihat uang yang ada di tangan keriputnya, mata sang ibu tampak berbinar. Ia segera mengucapkan terimakasih pada si bos. Langkah kakinya pun segera ia ayunkan ke rumahnya. Bukan. Rumah itu tidak layak disebut rumah. Bentuk tiangnya condong ke arah kiri. Beberapa gentengnya mulai peot. Sangat tidak serasi jika dibandingkan dengan perumahan komplek yang ada di balik tembok pembatas kasta si kaya dan si miskin.
Langkah kakinya begitu ringan. Tidak terasa sebelum maghrib, ia tiba di rumah peninggalan suami yang terlebih dahulu meninggalkannya menghadap Yang Maha Kuasa itu. Dibuka pintu yang mengeluarkan suara yang berdecit. Ia pun masuk ke dalam satu-satunya kamar tidur yang ada di pondok tersebut. Dihitungnya lagi uang yang selama perjalanan pulang digenggamnya. Kemudian, uang tersebut dimasukkan ke dalam celengan ayam.
“Sudah mulai berat sepertinya celengan ini,” ujar sang ibu sembari mengelus celengan hasil jerih payahnya seumur hidup itu. Senyumnya terukir di bibir yang mulai pecah. Ditatapnya sebuah foto seorang pemuda yang tergantung di dinding sebelah kanannya.
“Ibu sayang kamu, nak. Akan ibu ujudkan impianmu,” ucap sang ibu sembari senyum yang tak terlepas dari bibirnya itu.
Di dalam kebahagiaan memeluk celengan ayam, samar-samar telinganya mendengar langkah yang begitu pelan. Suara langkah tersebut berada di dalam rumahnya. Belum sempat ia menerka suara langkah siapakah itu, matanya menangkap sosok seorang pria berbaju hitam dengan wajah yang tertutup. Tangan kanan pria itu memegang pisau.
“Masya Allah, ternyata pintuku tidak tertutup,” ujar sang ibu yang mulai menyadari siapakah pria itu.
Pisau pria itu diacungkan ke wajah sang ibu. Sementara tangan kirinya berusaha merebut celengan ayam yang masih berada dalam pelukan sang ibu. Sang ibu ternyata tidak rela melepaskan celengan tersebut. Ia bahkan menggigit tangan kiri pria itu. Sang pria pun mengaduh kesakitan. Ia berusaha menghilangkan rasa sakit akibat gigitan itu dengan cara mengayun dan mengelus tangannya.
Melihat kesempatan itu, sang ibupun berlari menuju ke pintu kamar. Ia berhasil melewati kamar menuju ruang tamu.sambil berteriak meminta pertolongan tetangga. Ternyata, tetangga yang mungkin sedang tenggelam dalam keheningan senja tidak mendengar teriakan ibu yang mulai senja itu. Tak seorangpun tetangga yang keluar tuk menolong sang ibu. Apalagi jarak rumah sang ibu dengan tetangga terdekat sekitar lima meter, terpisahkan oleh kebon pisang.
Sang ibu tidak putus asa. Ia tetap berteriak sembari melangkahkan kakinya ke teras rumah. Kedua tangannya tetap memeluk celengan ayam. Pria bertopeng menyadari mangsanya itu akan membahayakan jiwanya. Segera ia menyusul mangsa yang hamper tua itu. Tak peduli ia bahwa mangsanya sedang kelelahan karena baru saja pulang dari kerja. Tak peduli bahwa mangsanya baru sedetik merasakan kebahagiaan atas pendapatannya. Bejat benar pria bertopeng itu.
Ibu berusaha melangkahkan kakinya meminta pertolongan tetangga. Hingga akhirnya, matanya yang mulai basah oleh airmata, menatap sosok bayangan dari arah kirinya. Sosok bayangan seorang pria yang terekam dalam memorinya selama 25 tahun. Ia tersenyum karena sosok itu adalah orang yang sangat dirindukannya.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” bisik hati sang ibu sembari melangkahkan kakinya ke arah bayangan tersebut.
Sesaat hati kecilnya berbisik, sang ibu merasakan ada yang menancap di punggungnya. Ia merasakan punggungnya basah oleh cairan yang sangat pekat. Tangan kiri sang ibu mengelus punggungnya yang kesakitan. Merah, darah. Pandangannya seolah berputar. Ia pun terjerembab ke tanah dengan lutut menopang tubuhnya agar celengan ayamnya tidak pecah oleh tubuhnya.
Bibirnya bergetar menyebut nama Allah. Ia berusaha membalikkan tubuhnya. Dilihatnya pria bertopeng ada di hadapnya. Tangan pria tersebut menyentuh celengan yang masih berada dalam pelukannya. Pria topeng itu menarik celengan, tapi tenaga sang ibu ternyata masih kuat mempertahankan incaran pria bertopeng.
Pria itu ternyata geram melihat pertahanan sang ibu. Ia mengayunkan lagi pisau kea rah perut sang ibu.
“Allahu Akbar,” teriak sang ibu dengan sisa tenaganya. Ia hanya percaya bahwa Allah akan menjaga apa yang dilindunginya.
Teriakan sang ibu ternyata menakuti pria bertopeng. Ia segera menjauh meninggalkan tubuh tak berdaya itu. Niatnya untuk mengambil celengan urung. Apalagi tetangga banyak yang berkeluaran mendengar suara ibu renta tersebut.
Bayangan seorang pria yang dilihat sang ibu mendekat kea rah tubuh yang tergolek tak berdaya. Diangkatnya kepala sang ibu dan dikecupnya kening perempuan tersebut. Sang ibu tersenyum melihat wajah yang bukan lagi bayangan di hadapannya. Airmatanya berlinang karena pria tersebut sangat dirindukannya.
“Ibu, kita ke rumah sakit ya. Ibu harus segera ditolong,” kata pria tersebut yang ternyata adalah anak sematawayangnya.
Sang ibu hanya menggeleng. Dielus wajah sang anak sembari senyum tersebut terus terukir di bibirnya.
“Ini untuk ongkos skripsimu, Bayu,” kata sang ibu sembari meletakkan tangan putranya ke celengan ayamnya itu.
“ Ibu tidak mau orang jahat itu mengambilnya darimu. Tidak ada lagi yang bisa ibu berikan padamu. Kecuali ini. Ingat teruslah pada Alloh…Allohu Akbar,” sang ibu pun meneteskan airmata untuk terakhir kalinya. Namun senyumnya tetap terukir di bibirnya yang merekah indah. Senyum melihat wajah putranya untuk terakhir kalinya. Sembari kebahagiaan memberi yang terbaik untuk sang anak. Tak lain, agar sang anak meraih cita-citanya.

Di atas pusara ini, aku berkunjung padamu, Ibu. Aku berhasil meraih gelar dokterku karena ibu. Celengan ayam itu masih tersimpan di kamar tidurku. Kadang aku bertanya, kenapa ibu mengorbankan nyawa hanya untuk celengan ayam itu. Aku tidak bisa temukan jawabnya. Tapi, yang aku tahu, ibu sangat menyayangiku…Senyummu akan terus ada di hidupku

Kamis, 18 Desember 2008

Wajah-wajah ceria

Waktu yang paling berbahagia adalah ketika melihat orang tersenyum pada aku...
Senyum yang paling dirindukan adalah senyum orang-orang yang ku sayangi...
Siapakah orang-orang tersayang yang memiliki senyum bahagia nan ceria, yang selalu ku rindukan...


My Lovely Parents ofcourse as the first



My Missed Brothers, are

Arif Nyebelin, hehehe



RQ kuyuuuuuuuz...


Aril cengeng...


My Bunny-M always ever after...
U'll be the first man after u marry me...
But now, u are in second place after my dad...